The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Monday, August 10, 2015
Aku Tunggui Dia Pada Pukul 8.45 Malam di Stasiun Kereta


Bila ada yang mengganggu pikiranku selama beberapa bulan terakhir, maka ialah jiwa dari saudaraku yang pernah begitu dekat denganku.

Pada beberapa pertemuan terakhir, yang kubaca dari kedua matanya adalah jiwanya yang tidak bahagia. Kesedihannya terlalu nyata. Dan jiwa yang ada di dalam tubuhnya - yang selalu memperlihatkan ketenangan itu, seakan ingin berteriak, melompat, mengamuk.

Aku menandai kesukaran jiwanya.

Beberapa waktu lalu ia pernah kumaki-maki melalui pesan singkat. "Palsu!" umpatku. Aku tidak menyukai tabiatnya yang selalu menghilang, bersembunyi di balik cangkangnya saat ia merasa sedih.

Kupikir, kalaupun ia tidak bisa mengungkapkannya karena posisinya yang mengharuskan ia selalu diharapkan dan ditumpu, maka ia punya aku, sebagai adiknya, saudaranya, untuk ia bercerita tanpa harus takut terlihat lemah. Ia tahu aku tidak pernah menganggap hina kesukaran jiwanya, tetapi ia diam.

Namun aku mencoba melunak. Kupikir, setiap orang berhak menyimpan rahasia. Kupikir, mungkin karena ia tahu aku suka terbawa emosi dan perasaan, maka beban hatinya akan semakin besar kurasa sendiri di dalam jiwaku. Kupikir, ia jauh lebih mengenalku daripada diriku sendiri. Ia tahu aku menyayanginya sebagai abang. Mungkin karena itu ia sempat menjauh.

Kami berada dalam satu jurusan kereta setiap malam saat pulang bekerja. Bukan, bukan berarti kami satu kereta, hanya satu jurusan. Tetapi ia sering baru naik di stasiun di dekat apartmentku, setelah pulang menumpang bis dari Pasar Rebo, melanjut angkutan ke stasiun dekat apartment, lalu menaiki kereta sampai ke stasiun di dekat rumahnya.

Beberapa kali kami bertatap dan berbicara saat tidak sengaja bertemu di pagi hari. Beberapa kali, saat aku turun dari kereta saat pulang, baru kulihat di beberapa gerbong di belakang, dan ternyata ia satu kereta denganku. Aku tahu ia naik kereta dari Cawang. Dan paling sering ialah bertemu di malam hari saat ia tiba di stasiun kereta di dekat apartment, sementara aku baru saja turun dan hendak berjalan keluar dari stasiun.

Hingga pada minggu lalu aku kembali bertemu dengan saudaraku ini. Aku melihat wajah yang luar biasa sedih sekalipun ia mencoba tertawa. Ingin aku bertanya "what had happened to you, Bang?" namun yang keluar dari mulut adalah "kok tua kali mukanya sekarang?" Sayang pada saat itu ia bersama dengan rekan kerjanya, padahal ingin aku mengajaknya berbicara sebentar. Setidaknya, ia bisa berbagi kesukarannya denganku. Mungkin, dengan cara itu ia bisa melepas sedikit bebannya.

Aku tidak lagi menghubunginya sejak saat itu. Aku tidak ingin ia merasa terpojok oleh desakanku untuk bercerita.

Aku lalu menungguinya setiap malam di stasiun sejak malam itu, antara pukul 8.45 hingga 9.15 pada setiap malamnya. Di antara waktu yang tercatat inilah aku pernah selalu tidak sengaja bertemu dengannya di stasiun di dekat kediamanku. Hanya saja, sayang sekali, kini aku tidak pernah berhasil menemuinya di stasiun. Entah kenapa.

Kekuatan tubuhku melemah sejak kegiatanku menungguinya setiap malam di stasiun hingga akhirnya aku jatuh sakit sejak Sabtu lalu. Beberapa malam terakhir angin menjadi sangat kencang, dan aku sudah tidak lagi pernah membawa jaket.

Hingga malam ini aku belum menyerah, aku masih menungguinya di stasiun di dekat kediamanku. Ah, entahlah, mungkin aku sudah tidak waras. Mungkin sindrom akut mesianik ini sudah mengganggu kesadaranku. Tetapi aku tidak peduli. Tetapi aku belum menyerah. Aku harus mendengar langsung darinya. Tidak melalui telepon, tidak melalui pesan digital. Aku ingin ia berkurang beban jiwanya.

Aku menyayangi abangku ini.

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 8/10/2015 10:08:00 PM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives