The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Sunday, September 6, 2015
Perintah Yang Terberat Untuk Dijalankan



Dua minggu terakhir adalah hari-hari saat perasaan saya naik turun. Seketika bahagia, seketika muram.

Ada ingatan dan perasaan yang muncul kembali saat saya mencoba "menolong" junior saya di kantor agar tidak merasa kecil hati dan berlarut dalam pikiran dan perasaannya karena situasi; tentunya dengan berbagi cerita pribadi saya yang lebih kurang mirip dengan yang dia alami. Harapanku, ia bisa mengambil contoh, dan tahu bahwa yang ia hadapi tidaklah seburuk yang ia rasakan, bahwa ada orang yang tidak lebih beruntung darinya, yaitu saya sendiri. Saya tidak ingin ia berbuat banyak hal bodoh seperti saya dulu yang dikarenakan ketidakberdayaan.

Yang terjadi kemudian, ia mau bangkit dan tahu bahwa ia tidak bisa mengendalikan segala hal. Satu-satunya yang bisa ia kendalikan adalah perasaan yang berdiam dalam jiwanya. Aku merasa senang ia mengambil sikap demikian.

Tetapi yang terjadi kemudian setelahnya, adalah saya yang menjadi hancur kembali, karena ingatan akan segala peristiwa dan perasaan yang pernah saya rasakan; terkucilkan, tidak dianggap, tidak dimengerti, tidak dirangkul untuk mendekat dan bergabung, segalanya muncul kembali. Hati saya seakan menjadi berwarna hitam kembali. Ada kemarahan, kekecewaan, rasa putus asa dan ketidakberdayaan yang menyerang kembali.

Kataku dulu aku memaafkan mereka. Kataku dulu semua sudah selesai. Tersisa sebuah perasaan yang saya tidak tahu ia sebentuk apa.

Saya tidak lagi punya kesempatan untuk bertemu dan berbicara langsung dengan mereka, yang telah menimbulkan luka ini, untuk berbicara terbuka tentang ini. Saya bahkan takut menangkap secara salah segala perkataan mereka, seperti yang belum lama ini diteriakkan kepadaku, "saya itu jengkel kalau kamu selalu memakai opini kamu sendiri!!" Kupikir, aku sering memberi opsi untuk berbicara secara terbuka sebelumnya. Apakah berarti selama ini saya selalu membuat jengkel mereka? Apakah selamanya yang saya perbuat adalah salah di mata mereka?

Yang saya tahu, banyak dari mereka tidak tahu bahwa mereka pernah melukai.

Yang saya tahu, segelintir mereka mencoba untuk menjalani pertemanan dengan saya, tetapi tetap saya merasa ada jarak di antara kami. Entah saya, entah mereka yang membuat jarak.

Yang saya tahu, segala itu ialah bentuk permintaan maaf mereka, dalam bentuk tindakan. Tetapi entah, sekalipun kata-kata bisa menipu, mungkin hati kecil saya ingin mendengar secara langsung mereka mengatakan sesuatu, memintakan maaf. Mungkin dengan begitu jiwa saya terbebaskan.

Sebenarnya saya lelah. Saya sudah mencoba banyak hal untuk melepaskan ikatan kuk yang merantai saya selama bertahun-tahun ini. Saya sudah mencoba menganggap segala kesakitan ini sebagai ilusi, saya mencoba terapi kristal, saya kerap bertanya tiap malam, "aku harus berbuat apa lagi, Bapa, agar lepas segala beban ini? Apa harus tertanggung jiwaku hingga mati agar tidak lagi pernah merasakan kesakitan?"

Sering aku meletakkan kembali bebanku kepada Pemilik Semesta. Tetapi kenapa rasa sakit ini - yang kucoba untuk tidak menganggapnya, terasa begitu nyata? Apa selamanya saya harus berdampingan hidup dengan rasa sakit?

Mungkin sebaiknya saya tidak lagi pernah membicarakan ini dengan orang-orang yang saya hendak bantu dampingi jiwanya untuk melalui hidup. Saya memutuskan untuk tidak lagi pernah membagikan isi hati, perasaan saya. Tidak kepada orang yang pernah saya begitu anggap, tidak kepada mereka yang berpura-pura peduli.

Saya tidak tahu harus berbuat apa lagi. Kiranya mereka semua berbahagia, saya mencoba mengharapkan yang terbaik mereka. Mungkin, walaupun mulut saya mengucap saya memaafkan mereka, mungkin hati saya belum memaafkan mereka sepenuhnya hingga kesakitan ini selalu masih berdiam di sini. Mungkin sebenarnya, saya ingin dimaafkan oleh mereka, karena kehadiran saya yang pernah ada sebentar dalam hidup mereka.

Saya merasa saya tidak akan pernah menjadi pelaku Firman, terutama untuk perintah ini - yang menurut saya, adalah perintah terberat.
"Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;"

Lukas 6:27
Photo by Bang Dian, edited by I myself.

Labels: ,

Eleazhar P. @ 9/06/2015 01:36:00 PM. 1 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts