The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Sunday, February 28, 2016
Telusur Batam, Feb 26 - 28: Melepaskan, Memulai, Berdamai dengan Ugly Wound


Up and above the tiny clouds on Riau Islands!
For photos viewing of this getaway, check out the albums at my Facebook or #eapgetawayfeb2016.

Saat ini saya berada di Bandara Hang Nadim, Batam, menyelesaikan liburan singkat menelusuri Batam dan pulau-pulau di sekitarnya sejak 26 Februari lalu. Post ini akan saya update setibanya di Jakarta nanti, memuat konten cerita dan foto-foto. See ya!

------------

[Updated on March 4th 2016]
"Ver!! Aku udah turun dari Damri ini. Pas di depan Nagoya Hill. Kayak apalah kubilang kotamu ini ya? Hahahaha... Unik, Ver. Aku belum pernah melihat kota yang mirip Batam ini." That was what I spoke to my old friend, Vera, as my very first impression about Batam. An island where she has been living for almost a decade.

I decided to visit Batam as I haven't met her since 2010, and I did want to experience the way people living their life here. And of course, I need a getaway, escaping my boring life in Jakarta. Did I have lessons to learn in Batam?

---

Saya memutuskan untuk melakukan trip ke Batam pada awal Januari lalu, setelah menimbang-nimbang akan berlibur ke mana di tengah penatnya keseharian saya sejak pertengahan tahun 2015 lalu. Liburan pulang kampung ke Sumatra Utara dengan adikku di September dan liburan korporat sekantor ke Belitung di Oktober tahun lalu tidak cukup.

Memang, sejak liburan kedua di Aceh Mei tahun lalu itu, saya tidak lagi merasakan ketenangan dalam berlibur. Pasti akan selalu ada telepon dari kantor karena kegiatan operasional sudah benar-benar berjalan, atau saya harus selalu membawa laptop untuk mengawasi aktivitas operasional secara remote saat berlibur. Kini, saya pikir saya sudah bisa menikmati liburan yang saya harapkan; karena tim logistik yang sudah mulai mature - bisa ditinggalkan sementara waktu, dan business processes antar departemen sudah mulai lancar.

2016 ini seharusnya jadi awal mula saya menikmati kembali kehidupan, setelah jiwa saya sempat terputus dari kehidupan nyata sejak akhir Mei tahun lalu hingga ulangtahun saya yang ketigapuluh di 26 Februari lalu - tepat saat saya mulai menjalani dan menelusuri Batam dan pulau-pulau di sekitarnya.

Menjalani, melihat, mengalami, merasakan cara orang-orang lokal menjalani kehidupan mereka di Batam adalah tujuan saya yang terutama, karena saya butuh membakar empati saya untuk menyala kembali setelah sempat meredup dan hampir matiselama beberapa bulan terakhir. Saya membutuhkan perspektif berbeda sebagai orang Batam; bukan sebagai penduduk Jakarta untuk melihat kehidupan sendiri di Jakarta. Saya ingin menjadi manusia kembali, seperti si Eleazhar Purba yang sempat bergairah kembali kehidupannya sejak Februari 2014 hingga April 2015.


Bisa dikatakan bahwa saya sangat menikmati liburan ke Batam ini. Beruntung saya punya kawan lama yang baik seperti Vera, yang saya kenal sejak kuliah lebih dari satu dekade lalu; dia tuan rumah yang baik dan sangat memahami Batam, dan memahami saya sebagai sesama Suku Pisces.

Saya menikmati perjalanan sederhana dengan Damri dari bandara ke Nagoya Hill shopping mall, menikmati setiap makanan lokal yang cocok bagi lidah karena sayapun berlidah Melayu. Sayapun menikmati menelusuri Nagoya Hill sekalipun saya berkantor di atas salahsatu mal paling berkelas di Indonesia; jujur saja, saya menikmati ragam logat penduduk multikultural Batam yang saya curi dengar di Nagoya Hill dan jalanan, dan bercakap-cakap dengan beberapa dari mereka. Bahkan budget hotel yang saya tinggali di Batam Centre sekalipun, semuanya terasa menyenangkan. Mungkin karena wanderlust yang sedang mengalir di darah saya saat itu; saat curiosity bertubrukan dengan excitement, maka dunia di depan mata adalah landscape menarik untuk dijelajah dan dirasakan.
Suatu waktu, di satu pantai dalam liburan saya.

Katanya, "girang amat sih melihat yang beginian."

You are just unable to feel how burnt I was in the crazy Jakarta. You just don't know how worthy this getaway is - for me. You just can't feel how excited I am to go on a getaway with you. I can't help myself to be this excited. Forgive me if my expression bothers you.

Tidak ada kegalutan atau naik-turun mood saya saat di getaway pertama saya di 2016 ini. Saya dan Vera bahkan sangat bisa menertawakan masa-masa kuliah dulu, teman-teman kampus yang "aneh" dan sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing pun sibuk beranak-pinak, dan manusia-manusia dari Suku Cancer yang sering - disengaja ataupun tidak, memberikan luka yang pernah membusuk pada jiwa kami. Masing-masing kami pernah dilukai oleh manusia-manusia dari Suku Cancer, bahkan pada "kasus" saya, mungkin lukanya tidak akan pernah sembuh, seberapapun usaha saya mencoba mengobati "ugly wound" ini. Vera - tentunya, punya ceritanya sendiri tentang "orang-orang khusus" itu. Tidak, jangan harapkan saya untuk bercerita tentang Vera dan kisahnya di sini. Itu area personal.

Pun saat kami menjelajahi pulau-pulau yang dihubungkan dengan jalan mulus superpanjang dari Pulau Batam hingga Pulau Galang Baru yang dihubungkan Barelang, saya merasakan excitement yang susah saya tuliskan. Mungkinkah saya menggerutu saat saya melihat langit biru dan lautnya, mencecap udara bersih, menelusuri sejarah dan memberi makan monyet-monyet di bekas kamp pengungsi Vietnam di Pulau Galang, merasakan naik turunnya mobil melalui perbukitan seperti penjelajahan di Pulau Weh tahun lalu, dan menikmati sebentar laut di ujung Pulau Galang Baru? I think that I had already left a part of my heart there, seperti saya memberikan sebagian hati saya untuk Banda Aceh dan Pulau Weh meskipun saya mungkin tidak akan pernah lagi ke sana.




Saya sangat menikmati getaway ini, sepenuhnya. It was fun. Fun it was, as my birthday trip, memulai fase hidup baru di usia 30 ini. Saya menyesali tahun-tahun di usia duapuluhan yang baru saja berlalu itu; yang saya habiskan dalam kemuraman harian, dan dalam perkelahian di dalam diri untuk memutuskan apakah tetap hidup atau berpasrah mati - karena bagi orang-orang tertentu yang sangat berharga di mata dan hati saya, saya tidak pernah dianggap ada ataupun memiliki sedikit harga.

Perjalanan-perjalanan yang sudah saya jalani sejak Februari tahun lalu mungkin secara tidak disengaja menjadi perjalanan simbolis dalam fase-fase hidup saya. Dimulai dari Titik 0 Kilometer Indonesia di Pulau Weh, maka saya harus menjalani hidup saya dimulai dari nol untuk seterusnya; bahwa segala kesusahan hati saya selama bertahun-tahun haruslah bisa saya hidup dengannya, bahwa luka itu memang menjadi bagian hidup saya karena saya tidak mungkin bisa menyembuhkannya, bahwa mungkin si pembuat luka tidak akan pernah tahu atau merasa apa yang ia goreskan dalam jiwa saya bukanlah kesalahannya, bahwa mungkin si pembuat luka sebenarnya menikmati kesakitan yang saya rasakan, dan bahwa saya harus menerima luka itu sebagai bagian hidup saya, dan bahwa semakin saya mencoba berdamai dengan si pembuat luka atau menutupi luka itu, maka lukanya akan semakin hidup, bernafas, dan semakin terasa sakit. I will let the pain stays there. I will carry it on, setidaknya untuk mengingatkan saya bahwa sayapun manusia, dan mengingatkan saya bahwa kehidupan itu tidak selalu mulus - akan ada masa-masa kita disakiti oleh manusia lain dan keadaan, pun masa-masa saat kita menyakiti orang lain, bahkan kepada orang yang paling berharga sekalipun bagi kita.



Dan kini, pulau-pulau yang dilalui oleh penghubung Barelang akan mengingatkan saya bahwa setiap perjalananpun akan berakhir di ujung seperti dead-end di Pulau Galang Baru yang mengakhiri rangkaian Barelang. Bahwa ada cerita di masing-masing fase hidup, seperti tiap-tiap pulau di Barelang memiliki kekhasannya masing-masing. Bahwa ada saat untuk melepas masa lalu seperti meninggalkan satu pulau ke pulau lain, dan memulai fase hidup yang baru. Tuhan kiranya yang memiliki kendali sepenuh.
---
Saat ini saya sangat bersemangat untuk menjelajah Balikpapan di Mei nanti, dan satu negara impian pada sekitar Oktober 2016 atau Maret 2017. :)

All photos by I myself. My self-photos were shot by Vera.

Labels: , , ,

Eleazhar P. @ 2/28/2016 11:52:00 AM. 0 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts