The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Monday, May 23, 2016
Telusur Balikpapan, 5-7 Mei 2016

Saya kembali "mengejutkan" orang-orang di kantor saat saya mengutarakan rencana saya untuk backpacking ke Balikpapan di 5 - 7 Mei yang lalu. Pertanyaan yang sama mengemuka kembali, "ngapain sih jalan-jalan ke kota yang orang tidak pikirkan untuk dikunjungi?" Well, I did have reasons for most everything in life.

Basically karena saya selalu merasa sebagai "yang terbuang", "yang tidak terlihat", "yang tersingkirkan", "pilihan terakhir". Karenanya saya mencari tempat atau kota yang orang jarang pikirkan untuk dijelajahi, dikunjungi, dinikmati segala sesuatu di dalamnya. Pun di usia 30 ini, saya merasa "kaki menjadi sangat gatal untuk menjelajah". Mungkin, karena siklus kembalinya Planet Saturnus ke titik di mana saya dilahirkan 30 tahun lalu, yang tepat ia terhenti di rasi Sagittarius, si penjelajah.

Setelah bersenang-senang, berkontemplasi, dan merayakan ulang tahun saya Februari lalu di Batam, ikut bersosialisasi (alias "setor muka") di acara kantor di Carita pada April lalu, terbanglah saya dengan adik saya ke Balikpapan saat long weekend di awal Mei lalu.

Senja di Pantai Melawai

To be honest, I once underestimated Balikpapan. Tahun lalu saat saya merencanakan untuk menjelajah Balikpapan, saya sempat meragu, "what would you expect from a city in Balikpapan, like to explore it? Come on.."

So, please forgive me. It eventually took a trip to show myself wrong. Balikpapan is a lovely, lively, and LIVABLE city. Saya bahkan mempertimbangkan untuk menetap di kota ini suatu saat nanti. Alasannya? Saya uraikan secara subtle di catatan ini.

-------------

Explore complete albums of this getaway in #eapgetawaymay2016 !

-------------

Day 1 (May 5)

Sengaja tidak memilih penerbangan pagi supaya saya atau adik saya bisa beristirahat cukup di malam sebelumnya. I hate early flight in the morning! Hahaha... Jadi saya berangkat dari apartment, adik saya dari kost-nya, dengan meeting point di pool Damri Pasar Minggu. Kupikir, biar santai. Ibu saya sebenarnya saat itu di Jakarta, tetapi ia tidak mau ikut ke Balikpapan, jadi tinggallah ia di kost si adik.
Setibanya mendarat di Sepinggan

Ada sedikit masalah saat kami sudah boarding. Tim ground Batik Air menukar kursi kami berdua saat sudah akan masuk pesawat. Dan di pesawatpun ternyata nomor kursi kami yang baru juga double dengan penumpang yang lain. Saya sering naik maskapai ini, tetapi baru kali ini mengalami hal seperti ini. Saya tidak ingin marah atau mengeluh saat itu, saya memilih mengalah dan pindah seat. Pramugari sudah minta maaf atas nama maskapainya ya sudahlah, cukup. We just wanted to enjoy the journey, right?

Dan... Saat tiba di Balikpapan, I was so impressed about Sepinggan Airport. Bandara ini keren sekali, terlihat jauh lebih terawat dari Kualanamu Airport yang saya bangga-banggakan di propinsi asal saya; Sumatra Utara. Saya minder sejadi-jadinya, dan seketika menjadi orang yang sangat udik karena kagum dengan wah-nya Sepinggan.

Taksi Bandara di sini resmi ya. Ada tiga zona area tujuan. Hotel kami yang berada di pusat kota masuk dalam zona Ring 1, dengan tarif flat 70 ribu rupiah.

Setelah tiba dan check-in di Ibis Hotel Balikpapan, berjalanlah kami memulai menjelajah kota minyak yang makmur ini.

Saya akan terus teringat dengan jalan protokolnya yang menyediakan trotoar yang luas dan bagus untuk para pejalan kaki. Saya akan terus mengenang ramah dan baiknya supir angkot yang mengantar kami dari Plaza Balikpapan ke Pantai Melawai sore itu. Dan saya suka cara warga kota ini dalam bertutur kata; sopan dan terkesan tulus, tidak ada nada tinggi. I felt the peace.
Sunset di Pantai Melawai. The best sunset-spotting spot in Balikpapan.

Sejenak, saya hanya ingin duduk dan menikmati terbenamnya matahari sore itu di ujung laut sana. Untuk sebentar, saya merasa damai, sekalipun kadang saya merasa agak terganggu dengan adik saya yang selalu mengambil foto selfie-nya. Like, "why can't we enjoy the nature?" Mungkin karena memang berbeda karakter, dan beda tujuan berlibur, juga dua kepala yang menjelajah dan berpikir. Sebagai abang, seharusnya saya bisa lebih sabar, tidak membesar-besarkan hal tersebut waktu itu, harus bisa maklum. Kupikir ya sudahlah, saya hanya ingin menikmati kota ini, and her people, too!

Wefie!

And oh, Pantai Melawai ini menurut banyak orang adalah spot terbaik menikmati sunset selama golden hours di Balikpapan. Cobalah jajanan lokal di pinggir pantai, atau nikmati beragam seafood bakar/goreng di situ. Makan dengan pola lesehan di bawah pohon dan menikmati sunset adalah hal sederhana yang memorable. Duh, beruntungnya warga kota ini. Such things would be way so expensive in Jakarta.
Lesehan di Pantai Melawai


Day 2 (May 6)

Setelah sarapan di hotel, kami langsung menuju lokadi Konservasi Beruang Madu di Km.23 Jl. Soekarno-Hatta, utara Balikpapan, dengan menumpangi mobil sewaan. Sayangnya kami berangkat telat di pukul 9, dan tiba di sana di jam 10. Sementara waktu pemberian makan (feeding time) di mana beruangnya akan keluar terlihat adalah di pukul 9 pagi dan jam 3 sore saja. Saya pasrah saja. Jadi tidak berharap banyak sama sekali, lalu menghibur diri untuk menikmati suasana a la hutan alami di lokasi konservasi ini, yang tentu benar-benar rindang, hijau, segar. I could spend hours there actually.
Into the woods

Tetapi kemudian, bung driver kami berucap sesuatu, which was like, "sini, sini, beruangnya kelihatan." And I was so excited to even run-and-hop on the wooden bridge, which I must not do. :)) Were we lucky? I think so!

The superstar sun bear! :p

Sepulangnya dari kawasan konservasi, kami melanjutkan perjalanan untuk membeli oleh-oleh di kawasan Istal Kuda - untuk teman, rekan kantor, ibu kami. Dilanjutkan dengan menikmati kepiting di Restoran Dandito yang tersohor itu, dan kembali membeli oleh-oleh berupa perhiasan (untuk ibu kami) dan gelang Garnet (untuk saya sendiri, hehe) di Pasar Inpres Kebun Sayur.
Let's see the sunbears!

Kepiting Dandito! Seporsi ini harganya 200 ribuan, tapi enakkk!

Kami menyusuri jalan-jalan utama dan jalan pintas di Komplek Pertamina saat itu. Saya menikmati penelusuran ini; komplek penyulingan minyak sebagai Kawasan Strategis Nasional sendiri dan perbukitan di Komplek Pertamina sendiri adalah jalan-jalan yang bisa dinikmati untuk dialami.
Desain langit-langit Lamin di Kawasan Konservasi Beruang Madu. Cantik.

Gelang Garnet yang dibeli di Pasar Inpres Kebun Sayur

Kamu tahu yang membuat saya kagum dengan kota ini? Saya tidak melihat adanya gembel, pengemis, warung-warung liar, parkir liar, atau pengendara motor yang berkebut. Antikah saya dengan keadaan itu? Hal itu jamak saya lihat di Jakarta. Dan mari lihat sisi positifnya; bahwa memang pemerintah lokal mungkin sangat berhasil menerapkan peraturan tiadanya hal-hal seperti itu di Balikpapan, dan atau memang tidak ada kaum miskin kota di Balipapan. Mungkin pun saya salah karena hanya mengamati. However, we were truly impressed! Kota ini menjadi nyaman dan layak huni.

Setelah menjelajah seharian, kamipun menjajal jajanan malam di Taman Bekapai yang - aduh, hanya cukup "ngesot" dari hotel. Porsi makanan di sini menurut saya jumbo. Rasanya juga enak, pas. Harga pun - menurut saya, sangat murah! :) Puas batin saya.

Taman Bekapai sendiri menurut saya bagus. Orang pacaran pasti ada lah ya. Tetapi yang datang bersama keluarga dan anak-anak juga sangat banyak. Kalau di Medan mungkin ini bisa disamakan dengan Merdeka Walk, tetapi di sini jauh lebih manusiawi menurutku. Dan suatu kota akan dikatakan kota jika kota tersebit mampu menyediakan taman untuk warganya bisa bersosialisasi. Taman adalah kebutuhan vital suatu kota.

Selain Taman Bekapai, kota ini juga punya tanah lapang luas di dekat Tugu Australia (dekat Pantai Melawai) yang ramai dimanfaatkan warga untuk berolahraga massal di sore hari. Ini jarang saya lihat meski di Jakarta juga masayarakat bisa  berolahraga massal selama Car Free Day atau di Gelora Bung Karno.

Ah, saya kira saya bisa kerasan di kota ini. :D


Day 3 (May 7)

Tidak banyak cerita di hari terakhir ini. :p Saya diribetkan masalah kecil di kerjaan dan memang harus check-out jam 11 untuk pulang dengan pesawat jam 1. Tetapi ada yang berkesan. Saat check out, mbak receptionist menyampaikan bahwa tarif taksi ke bandara juga flat, 70 ribu rupiah, taksi apapun itu. Sama seperti dari taksi dari bandara ke hotel waktu kami datang. Sayapun mengucapkan terima kasih ke mbak receptionist sambil menyampaikan feedback secara verbal bahwa Ibis Hotel Balikpapan ini snagat baik servis dan fasilitasnya.

I gave no expectation that time actually. Saya agak worry karena taksinya tidak memakai argo. Ini bukan berarti taksi ber-argo semuanya baik; nggak juga. Saya bisa langsung mengidentifikasi si bapak taksi sebagai orang Jawa Timur; yang tentang propinsi itu saya punya ikatan jiwa, terutama karena perusahaan pertama saya adalah di Surabaya. I had this "power" and interest to talk to him, tanpa pretensi meski khawatir ia akan berbohong tentang tarifnya nanti (sepanjang jalan saya tidak menyinggung soal ongkos).

"Olahraga" naik-turun tangga dulu kita...

The superb Sepinggan.

Dan ketika taksi tiba di bandara dan saya akan menyerahkan selembar 100 ribu, si bapak langsung berucap, "cuma 70 ribu mas." Oh wow, si bapak jujur. :) Sayapun tidakragu mengucap, "kembaliannya buat Bapak aja, saya masih anggap saya arek Suroboyo, pak.." Haha, pedenya, sementara saya tidak pernah dianggap menjadi orang Surabaya. Si bapak pergi dengan senyum. Saya lebih lagi; karena impresi saya tentang Balikpapan dan warganya semuanya baik.
"Kalau kita menjadi traveler di kota baru, lihat, amati penduduk lokalnya. Ajak ngomong dengan ramah aja. Kalau mereka baik, tunjukkan kalau kita juga baik. Kasih penghargaan ke warga lokal yang jujur..." said me to my little sister.

[The Aftermath]

Traveling bagi saya kini adalah terapi, seperti seorang psikiater bagi jiwa saya yang masih memiliki banyak pertanyaan tentang hidup dan manusia, cara bagi saya untuk berkontemplasi dan mencari jawaban bagi jiwa yang tidak puas dengan sekian hal yang belum terjawab. Traveling adalah medium untuk saya bisa bertemu lebih banyak komunitas, dan melihat mengalami langsung cara-cara tiap komunitas menjalani hidup mereka.

Pertanyaan-pertanyaan seperti; mampukah saya kembali mempercayai manusia? Mampukah saya untuk dipercayai manusia-manusia lain - terlepas dari fakta jika saya yang bersalah atau kesalahan itu tidak pernah diperbuat olehku? Masih adakah orang yang tulus berinteraksi dengan saya tanpa dia/mereka memiliki beban untuk berbuat baik/pantas kepada saya karena dia/mereka merasa bersalah atasku?

I have this continuous paradox, one that is too contrast.  Human - for me, are the scariest creatures walking on earth. Human - on the other side, are the creatures I love and adore the most.

Pada traveling saya masih dan akan terus mencoba melihat diri saya sendiri; apakah saya layak untuk menjalani hidup dengan manusia-manusia lain? Apakah kesalahan saya sebegitu besar untuk bisa diterima apa adanya dan tidak dihakimi sebagai yang-tidak-mampu dan yang-tidak-cakap-bekerja tanpa mereka melihat asal-usul darah dan nenek moyang ini?
On the clouds, leaving Balikpapan...

Pada penjelajahan-penjelajahan berikutnya, seyakinnya saya bahwa saya masih terus bertanya. Meskipun menyakitkan, tetapi mungkin perasaan saya semakin kuat untuk terlindungi menghadapi manusia-manusia yang lebih mengerikan untuk dijumpai di masa depan, sehingga sekalipun saya diperlakukan tidak adil kembali, luka yang saya akan rasakan tidak terlalu sakit dan terasa menghujam seperti setiap pagi selama bertahun ini.

G*d, please have Thy mercy on me.

------------
Photo by: Eleazhar P. and Yosepina P.

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 5/23/2016 01:05:00 AM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives