The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Sunday, November 27, 2016
Telusur Luwuk: A Pisces-Journey (10 - 12 Sep), Part II: That Ugly Wound

Saya kembali pulang kampung (untuk ketiga kalinya di tahun ini) pada 11 - 13 November lalu untuk alasan operasi pembedahan (saya akan ceritakan ini beberapa hari ke depan). Dan dalam satu pembicaraan dengan adik saya, dia menyebut kalau saya dibicarakan beberapa orang sebagai orang yang sering berjalan-jalan ke daerah-daerah. Meski sebenarnya tidak sepenuhnya benar (karena saya bukan traveler atau penggila jalan-jalan, dan hanya bisa berlibur di hari-hari libur panjang), saya tidak sepenuhnya "menyalahkan" orang-orang bila beranggapan seperti itu, hanya karena melihat foto-foto unggahan saya di Facebook dan Instagram. Ada alasan tertentu kenapa saya mengunjungi tempat-tempat asing yang saya mungkin tidak pernah pikirkan sebelumnya untuk datangi.

------------

Sabtu pagi itu, saya dan Vera baru mendarat di kota Luwuk; a land that is just too beautiful for our eyes. Terlepas dari keinginan mendasar manusia biasa untuk mengukur tinggi perbukitan dan gunung, untuk mengukur dalamnya laut dan samudra, untuk mengukur tapal batas dari suatu tanah yang didiami kita manusia, yang saya rasakan saat itu adalah kegirangan aneh yang kini terasa biasa bagi saya; wanderlust.

Saya masih menduga-duga apa-apa yang akan kami lihat, rasakan, alami di tanah yang kami belum pernah datangi sebelumnya ini. Alam, akan jelas kami alami. Warga lokal dan penduduknya, bagi saya - adalah tantangan pribadi untuk bagaimana saya bisa membaur, berbicara tanpa menyakiti mereka, bersikap genuine tanpa berusaha menjadi terlalu peduli apakah saya akan bisa "diterima" oleh mereka.

Kau tahu, pada setiap tempat yang saya kunjungi, ketakutan saya yang terbesar adalah untuk dapat diterima. Pengalaman-pengalaman tidak baik di masa lalu, lebih kurang terus memacu saya untuk mencari tahu; apakah saya ditolak dan dijauhi karena saya terlihat dan terdengar berbeda? Atau, mungkin yang menolak saya adalah yang sebenarnya yang bermasalah? Bukankah ada orang-orang tertentu yang bisa saja membenci orang lain tanpa membutuhkan alasan tertentu? Mungkinkah yang membenci saya dulu adalah orang demikian?

Kau tahu, mungkin saya sebenarnya pernah mendapatkan jawabannya. Bertahun-tahun saya membangun kepercayaan diri, berusaha menyembuhkan sendiri kesakitan ini dengan banyak-banyak menanamkan yang baik dan membangun di pikiran saya. Tetapi semua hal tersebut bisa runtuh dalam hitungan jam. Satu, dua peristiwa, sudah menghancurkan benteng-benteng tak terlihat yang saya bangun dalam diri saya tahun lalu. Saya berusaha mencari jawaban-jawabannya kemudian dengan lebih banyak berinteraksi dengan orang yang berbeda dengan saya; dari faktor tata bahasa, cara penyampaian, logat mereka. I hate this ugly wound so much, I want to be healed, totally.

Dan, setelah turunnya kami dari mobil taksi pelat hitam dari bandara ke pusat kota Luwuk itu, saya sebenarnya masih bimbang; "how should I start conversations with the locals now?" Sebenarnya saat itu saya masih sedikit menggerutu dalam hati, "kebangetan juga itu supir menawarkan hampir 2 juta untuk layanan keliling bagian timur Sulawesi Tengah ini, dibaca di internet juga paling 600 ribu... Tapi ya sudahlah, namanya juga ia menawarkan. Kalau kami tidak mau ya sudah..."

Lalu,

"Kau tahu mau ke mana kita sekarang?" tanya Vera.

"Nggak, hahahaha... Setahuku sekarang kita mau cari sarapan di pusat kota. Snack yang dikasih di Garuda tadi nggak cukup sampe siang..." kataku.

"Eh... Aku nggak ada rencana mau ke mana kalau sekarang, Ver. Hahaha... Nggak mungkin langsung drop tas di hotel terus jalan-jalan," tambahku lagi.

"Kita jalan ke sini aja, Ver. Ngandalin instinct aja. Travelingku itu nggak bisa selalu sama dengan itinerary yang udah direncanakan. Banyak improvisasi. Hahaha.."

Sekian puluh meter kami berjalan sambil tertawa cekikikan. Ada warung yang ramai, tetapi terlihat banyak anggota kepolisian yang sedang sarapan di situ. Kami urung. Berjalan sekitar 20 meter lagi, ada warung yang terlihat sudah buka, tetapi di depannya hanya terlihat menjual kue-kue basah. Kami mengucapkan salam ke ibu penjual dan mengambil makanan secara prasmanan.

"Kita tanya-tanya ke si ibu untuk transportasi ke Bukit Teletubbies sama Pulau Dua," saran Vera kemudian saat kami masih makan.

Vera, sang Pisces mature, lalu lebih banyak mengambil kendali saat berbicara dengan si ibu, saya masih sangat mengantuk.

Saya lalu lebih banyak memperhatikan percakapan antara Vera dan si ibu. Ibu yang sangat baik, menurutku. Makan di rumah makannya inipun mirip seperti makan di rumah tante atau bibi sendiri. Ia sering menanyakan apa ada ada yang kami mau minum tetapi tidak ada di tempatnya. Ia menanyakan apa telur rebus kami kurang atau mau tambah, lalu membenahi posisi arah kipas angin agar saya tidak terlalu merasa kepanasan. Sungguh, masakannya sebenarnya tergolong biasa, tetapi yang ibu ini lakukan untuk membuat kami nyaman dan merasa diterima, sudah memenangkan hati saya. Hal-hal seperti perhatian kecil ini sering membuat saya bahagia sekaligus sedih. Terlepas dari fakta bahwa saya adalah tamu di rumah makannya, saya merasa yang dia lakukan tulus. Saya tidak berusaha menutupi kenyataan bahwa dia kini tahu kami adalah pelancong dari Jakarta dan Batam. But her intonation, her gesture, they were all decoding genuine things. Sayalah yang merasa bersalah karena saat akan menyeberangi jalan memasuki rumah makannya merasakan kekhawatiran tersendiri, "apakah pemilik warung inipun sama seperti orang-orang yang dulu memperlakukan saya seperti tidak layak ada di antara mereka karena saya adalah orang asing dan berlogat kental ala Sumatra Utara bagian Timur?"

Untuk sekian menit saya merasakan bahagia. You know, perasaan seperti ini - berada di tempat asing, merasa diterima, berbaur, dan berlimpahnya excitement untuk menjelajah firdaus tropis bernama Indonesia, membuat saya semakin senang menjelajah negeri ini. Mungkin luka batin saya tidak bisa sembuh, mungkin itu sudah menjadi bagian dari hidup saya. Mungkin ini beban yang harus saya pikul seumur hidup. Dan jika orang-orang berpikir bahwa saya bertualang hanya untuk sekedar gaya hedonisme, maka biarlah. Saya yang tahu apa-apa yang saya jalani, saya yang tahu dan merasakan perasaan saya. They will not stop me. Bagiku, cara ini, menjelajah satu per satu tanah ini, adalah bagian dari proses penyembuhan luka di jiwaku.

"Oh, mobilnya di sebelah ya, Bu. Hehe.. Jadi bisa langsung ke Bukit Inspirasi ini. Kami pamit ya, Bu. Assalammualaikum.."
Photo by: myself.

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 11/27/2016 12:17:00 AM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives