The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Thursday, February 16, 2017
Menuju Deep Work

Deep work is the ability to focus without distraction on a cognitively demanding task. It’s a skill that allows you to quickly master complicated information and produce better results in less time. Deep work will make you better at what you do and provide the sense of true fulfillment that comes from craftsmanship. In short, deep work is like a super power in our increasingly competitive twenty-first century economy. And yet, most people have lost the ability to go deep—spending their days instead in a frantic blur of e-mail and social media, not even realizing there’s a better way.

Cal Newport
Ada hal-hal yang saya sesalkan jika saya melihat ke belakang - hal-hal yang terjadi selama hampir sepuluh tahun terakhir ini. Saya harus mengakui ke diri saya sendiri, bahwa saya mengalami depresi selama bertahun-tahun, terparah terjadi di antara tahun 2008 - 2014 awal. Ini terlihat pula, direfleksikan pada posts di blog selama era tersebut.

Saya membutuhkan waktu bertahun-tahun, untuk mencoba memahami yang terjadi dalam hidup. Mungkin seperti yang pula dialami beberapa orang. Jatuh-bangun seperti hal yang biasa. Keengganan untuk melanjutkan hidup pun rasanya seperti hal yang menjadi ujung pistol yang ditempatkan pada kepala saya. Saya bisa mati kapan saja. Ini terjadi di hampir setiap pagi.

Yang saya sesalkan; kenapa saya memberi diri saya untuk berlarut dalam kemuraman sekian lama, sementara mereka yang menyakiti saya, bisa dengan gampang melanjutkan hidup dan menganggap saya bukan siapa-siapa. And that they did nothing. "It was only jokes," said them. "Jokes" yang sangat serius, tetapi, yang kadang bikin saya bertanya-tanya bagaimana jika mereka menjadi seseorang pada posisi saya; as being the one picked on by the bullies.

I never have such intention to do retributions. It's not my nature. Bahkan dengan orang yang saya anggap paling besar "jasanya" dalam "membuat saya dalam kepahitan" pun pernah saya anggap seperti saudara kandung sendiri. Meski kini mengingat namanya saja sudah membikin saya sedih dan gusar.

But anyway, "terima kasih" adalah yang paling mampu saya ucapkan kepada mereka. Karena mereka saya tahu jenis dan ragam hati manusia. I do not have any power to change the hearts. Kalaupun mereka membenci saya dulu, mungkin ada alasan-alasan tertentu yang membuat mereka membenci. Manusia dapat membenci orang lain karena alasan apapun, bahkan mungkin tanpa alasan apapun.

Yang saya sesalkan; kenapa saya "melarikan diri" terlalu jauh dari segala kepahitan hidup itu ke dalam kesenangan online? Selain tentu, untuk mencari jawaban di internet dari segala "kesusahan hati" yang saya alami.

Saya sangat aktif di jagad online; social media terutama. Dan semua ini semakin diperparah dengan semakin canggih smartphone yang saya gunakan. Di satu sisi, ada banyak kebaikan dan enhancement yang saya dapat. Tetapi lebih banyak yang semu. Tidak berguna, kontra produktif. I feel that I'm way so easily distracted.

Yang terpikirkan sekarang, adalah untuk lebih banyak terlibat dalam "deep work", seperti quote di atas. Ada banyak buku dan literatur yang saya terhilang kesempatan untuk membacanya karena selama ini terdistraksi oleh hal-hal semu di dunia online. Sama seperti saya kehilangan banyak sekali waktu tidur, waktu untuk menghubungi lebih sering anggota keluarga, waktu untuk menulis - terutama merawat blog, waktu untuk coding dan belajar lebih tentang pemrograman, waktu-waktu yang sebenarnya bisa digunakan untuk menghasilkan uang lebih banyak.

Saya mengalami dua kali kejadian yang berhubungan dengan kematian selama dua bulan berturut-turut; Desember dan Januari kemarin. Yang tentunya membuat saya kembali merenungkan hidup. Bukan tentang dosa dan perbuatan saleh, bukan tentang depresi dan pula bukan tentang kebangkitan semangat hidup saya. No, ini bukan juga tentang hubungan saya dengan Pencipta dan Penguasa Hidup. Tetapi lebih kepada untuk siapa hidup saya akan saya dedikasikan selama saya masih hidup.

Dan saat ini, saya sudah menemukan dan menetapkan tentang kepada siapa hidup ini akan saya dedikasikan.

Saya masih akan tetap bekerja dan melanjutkan hidup, bahkan dalam cara yang lebih "ekstrim" dari yang selama ini orang ketahui tentang saya. Yang pada akhirnya bermuara kepada siapa-siapa hidup ini akan didedikasikan.

Yang terpenting saat ini adalah tentang menjadi fokus. Kesakitan dan kepahitan yang ada, mungkin tidak akan pernah bisa sembuh, tetapi bisa saya abaikan bila tujuan baru ini bisa saya kerjakan dan fokus tentangnya.


Photo by myself, taken during #eapmudiknov2016.

Labels: , , ,

Eleazhar P. @ 2/16/2017 01:48:00 AM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives