The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Wednesday, March 8, 2017
Telusur Tangkahan dan Sumatra Utara, Feb 2017: Rasanya Seperti Mati dan Lahir Kembali

"Hello, Nature... Hello, Tangkahan..."
Oh hei, scroll the page below to see other photos, or go browse "#eapgetaway2017" in my Instagram feed for complete photos of this getaway.

Mengajukan cuti liburan jauh-jauh hari bukan berarti bisa merencanakan kegiatan menjelajah bagian negeri dengan matang dan terinci, yang ada di liburan lalu malah segala sesuatunya serba mendadak. Saya berencana hendak ke Tanjung Bira (Sulawesi Selatan), atau Baubau (Sulawesi Tenggara), atau Derawan, atau balik ke Balikpapan, atau malah terbang ke Sabang (Aceh) lagi. Galau luar biasa rasanya. Belum lagi saya memang butuh berlibur, sangat penat rasanya menjalani kehidupan akhir-akhir ini.
"Penumpang business class yang menggembel..."

Hingga menjelang tanggal 23 Februari - saat dimulainya tanggal cutiku, tiket pesawat belum dibeli, hotel pun tidak ada yang di-book. Saya bahkan baru membeli tiket one-way business class Batik Air di siang hari, beberapa jam sebelum saya akhirnya memutuskan menjelajah provinsi asalku; Sumatra Utara. Ternyata, tanpa itinerary terincipun, liburan bisa dinikmati.

Liburan kali ini hanya ada saya dan keluarga; adik laki-lakiku dan Mamak (ibu) tepatnya. Adik perempuanku masih harus bekerja, jadi kutinggal di Jakarta. Mungkin Februari semacam sudah menjadi bulan tradisi, saat saya merayakan ulangtahunku dengan berbaur di kota atau masyarakat yang tidak kujumpai setiap hari. Di 2015 saya berpelesir ke Aceh dan Sabang, di 2016 saya melakukan island hopping di Kepulauan Batam. Tahun 2017 ini, beberapa jam sebelum saya tiba di bandara, saya hanya ingin pulang, ke Sumatra Utara.

Kami pergi ke Tangkahan, Tanah Karo (lagi), dan Danau Toba (lagi, sejak kecil, hahaha) dengan memanfaatkan jasa private trip yang dijalankan adikku itu; @anakmedanonvacation. Dan kunjungan kami ke Tangkahan untuk pertama kali ini (yes! Saya yang asli warga Sumut saja baru kali ini ke Tangkahan), tidak lain dan tidak bukan karena posts di Instagramnya Nicholas Saputra, yang bolak-balik ke Tangkahan. And I wondered, “what does attract him to come over and over? Apa sih yang bikin si Abang Pisces itu tertarik dengan alam Tangkahan? Apa hal yang sama bisa membuatku tertarik sebagai sesama Pisces?” Hehehe...

Kembali, saya hanya ingin pulang. Menyepi, menyendiri di alam tanah kelahiranku. Dengan keluarga rasanya menjadi lebih baik. Ada banyak cerita yang saya ingin bagi dan luapkan ke Mamak dan adikku itu; hal-hal yang menjadi kegundahanku (yang tidak mungkin saya bagi di dunia maya atau teman manapun), kegusaranku tentang hiruk-pikuk politik dan aura kebencian yang menyelimuti Jakarta, dan hal-hal di masa-masa awal perantauan dan hal buruk yang terjadi selama hampir dua tahun terakhir ini.

Terlepas dari rasa suka melihat gajah di Tangkahan, bercebur dan menyentuh alam, ada hal yang rasanya terlepas dari jiwa ini. Rasanya seperti mati dan lahir kembali. Seperti mengalami baptisan. Seperti ada yang baru. Yang mati adalah kesakitan yang dialami jiwa saya sejak hampir dua tahun terakhir ini, hingga puncaknya yang saya alami beberapa saat setelah Natal lalu. Hal-hal yang menohok dan mengguncang hati saya tentang manusia-manusia yang saya anggap adalah sahabat saya. Hal-hal pahit yang membentuk jiwa saya sejak saya merantau di penghujung usia 21, hingga saya membuangnya di Tangkahan di penghujung usia 30 lalu.

Tanpa saya sadari, T-shirts yang saya pakai selama foto-foto di Tangkahan seperti mewakili apa yang saya bawa dan saya buang di alam; kesakitan jiwaku. Datang dengan pakaian berwarna coklat, ibarat air keruh yang menampung segala kotoran di jiwa saya, lalu tanpa pakaian atas saat bercebur, dan pulang dengan pakaian putih yang seperti memperlihatkan kesakitan yang sudah terbuang dari jiwa saya.

Alam Tangkahan seperti suaka bagi jiwaku. Sepi, jauh dari peradaban yang tercemar iri dengki. Hanya ada penduduk sekitar, alam, sungai, hutan, dan langit biru di atas sana. Kini saya mengerti, bisa merasakan kesukaan dan sukacita yang sama, seperti mungkin yang dialami selebritas di atas.
Dan saat kesakitan di jiwa saya terlepas, rasanya sangat melegakan. Jika mereka yang pernah mengecilkan saya, dikarenakan hal-hal yang saya tidak ketahui alasannya, tidak menganggap saya seperti manusia dan salah di mata mereka atas segala yang ada di diriku, maka biarlah. Jika bagi mereka saya adalah penjahat yang tidak terampuni, maka biarlah kini. Jika bagi mereka saya selalu dicurigai, maka biarlah. At the end of the day, what is the point to befriend someone if you do not trust him/her? Maka jika saya menghilang dari mereka, maka biarlah. Ada hal-hal yang saya tidak mengerti sepenuhnya, dan itu bukan kesalahan saya untuk tidak memahaminya saat ini.

Dan saat jiwa ini merasakan kemerdekaan, ada hal-hal yang menggugah jiwaku. Ada mimpi-mimpi besar di masa lalu yang seperti dimunculkan kembali. Dan saya, siap untuk hidup lagi.

"Membawa segala kesakitan di jiwa ke alam Sumatra..."

"Membuang segala luka dan kesakitan yang ditanggung selama hampir sepuluh tahun..."

"And all the pains are gone..."

"Tangkahan landscape"

"Hello, Lumbini Temple..."

"Stay and wander in Lumbini Hidden Garden"

"Hello, North Sumatra... Hello, Tanah Karo..."

"Mamak / Mother / Ibu"

"The mist of bliss in Simalungun"

All photos by Eleazhar and Daniel Purba.

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 3/08/2017 01:09:00 AM. 0 comments.
Read full post with comments.
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives

:: Current Posts