The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Monday, April 17, 2017
Menuju Deep Work (II): Mulai Menyingkirkan Media Sosial

Ada jeda waktu yang cukup lama untuk saya bisa meninjau kembali kebiasaan saya aktif di media sosial sejak ide untuk mengurangi, bahkan berhenti, dari media sosial. Waktu yang cukup lama itu lebih tepatnya dikarenakan mengobservasi apa-apa yang mungkin menjadi keuntungan mutlak atau kerugian kalau saya mengundurkan diri. Hingga akhirnya, saya sampai pada kesimpulan bahwa akan lebih menguntungkan untuk mengundurkan diri dari ranah media sosial.

Secara sederhana, pertimbangan terutama adalah saya tidak menemukan kebaikan berarti untuk tetap aktif di media sosial. Media sosial tidak membantu saya menyelesaikan dan menyempurnaan pekerjaan sehari-hari; yang ada malah membuat distraksi, tidak menyumbang apa-apa bagi pekerjaan saya. Tidak pula menyumbangkan kebaikan bagi kesehatan fisik dan psikis; yang ada bikin sakit kepala membaca cuitan dan komentar netizen di seantero platform, plus - seperti yang dialami banyak sekali orang di negeri ini sejak huru-hara politis di dunia maya - membuat saya mulai berpikir yang tidak-tidak ke kawan-kawan yang saya anggap dekat karena pemikiran mereka yang dituangkan di media sosial pun ternyata cukup radikal. Pada titik ini, mungkin kita dan saya harus merenung juga; "apakah saya harus memutuskan tali perkawanan dengan orang-orang yang bertentangan ide? Haruskah kita berpisah dan bertolak karena pemikiran? Apa memang bahwa sejak awal, orang-orang yang saya anggap kawan ini, tidak menganggap saya sebagai kawannya? Sebaik apa kita sebagai kawan untuk memberikan toleransi dan bertutur baik ke orang-orang yang kita anggap kawan tetapi menjadi “buas” di media sosial?"

Satu hal lagi, “kok rasanya lebih bahagia dan tenang tanpa media sosial ya?” Saya nggak perlu merasa lagi bahwa saya harus berbagi apapun dalam hidup saya di media sosial; tidak merasa “oh, I’m the trendsetter, saya harus duluan membagi ini,” atau “oh, pemikiran saya sangat cemerlang, saya harus membaginya ke khalayak,” atau “oh, saya harus mem-posting ini, saya keren, teman-teman saya keren jadi sayapun harus keren,” atau, ”oh, hidup saya sangat diberkati oleh Pemiik Semesta, saya harus menceritakan kebaikanNya bagi orang-orang". In fact, I never and will never change the world by just posting or tweeting my thoughts in the internet. Mungkin ada, satu dua orang yang terpengaruh dan berubah, tetapi saya skeptis tentang ini. Kadang pula saya berpikir kini, bahwa memang tidak perlu membagi hal-hal tertentu. Have you ever thought that you’ve just made someone is feeling bad and awful about his/her life, caused by the perfect portrayal and images you make about yourself in social medias?

Di satu sisi, saya bersyukur tidak punya tekanan sosial dari lingkar orang-orang sekitar kehidupan saya bahwa saya harus menjadi ini-itu, harus terlihat oke di depan orang-orang. I’m way too grateful for being a lone wolf in this hectic and fast world… Oh well, internet was a peaceful place at one place once upon a time, dulu ya, mungkin, where we - the introverts - once ruled over the internet.

Dan kemarin, 16 April, sebagai langkah pertama, saya menghapus semua aplikasi sosial media di ponsel dan iPad. I have not deleted the accounts yet, just the apps, so I would have lesser access to social medias and the massive notifications they pop out.

Jika saya ingin berbagi cerita ke ibu saya, saya akan menelepon beliau. Jika saya ingin bercerita mendalam ke teman tertentu atau adik saya, saya akan ajak ke restoran yang masakan dan suasananya enak. Jika saya ingin sesekali mengakses media sosial, saya akan buka kembali Macbook dan menjelajahi satu per satu nama-nama kawan yang saya anggap kini (atau pernah) berarti. As for me, this last action is quite “romantic”, isn’t it? Bukankah kita manusia sudah lama tidak mengalami rasa rindu kepada kerabat atau keluarga, karena kini sudah terlalu mudah mengetahui kabar mereka, selfie mereka, keluh-kesahnya, dan segala perkara yang menjadi masalah hidup mereka?

Satu-satunya hal yang akan membuat saya sesekali kembali ke media sosial adalah membagi foto-foto selama aktivitas traveling mendatang. Ibu saya senang melihat foto-foto traveling saya, dan juga saya tidak pernah terbebani jumlah likes atas foto-foto yang saya unggah selama ini.

Saya sungguh ingin berfokus ke perencanaan dan penyelesaian hal-hal yang lebih besar dalam hidup. Bila “menyingkirkan” media sosial adalah salah satu “harga” yang harus saya pangkas, maka biarlah. :)

Photo by: myself.

Labels: , ,

Eleazhar P. @ 4/17/2017 10:59:00 PM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives