The Cloud Home
by Eleazhar P.
:: Thursday, May 18, 2017
Lagom, Golden Ratio, dan Kekacauan Kehidupan (Bagian I)

Yang terjadi akhir-akhir di ranah internet dan dunia nyata sebenarnya sangat mengganggu saya. Kau pasti tahu; segala macam keriuhan politik, penghakiman komunal yang dicorogkan melalui akun-akun gosip dan propaganda di Instagram, dan banyak lagi macam wars of tweets dan ujaran-teriakan mengecilkan kelompok-kelompok lain yang berseberangan. Ada semacam rasa damai yang berusaha enyah atau dienyahkan. Ada pemain-pemain besar yang ingin mengubah kompas hidup banyak orang, termasuk ke saya, keluarga dan orang-orang yang saya kenal, dan masyarakat negeri ini secara luas.

Ada propaganda senyap tetapi masif yang sedang berjalan. Saya tidak tahu pasti siapa yang menggerakkan, tetapi tanda-tanda kehidupan bisa terbaca. Kita diarahkan ke sana; untuk terbawa atau menjadi korban dari huru-hara politis.

Ini sesuatu yang saya tidak setujui. Ada hal yang salah; pemain-pemain tadi dan agendanya. Apa yang salah; nafsu mereka. Dan sebagai pribadi yang selalu menghentikan diri sebentar untuk melihat apa yang sedang terjadi atau menjadi titik awal kenapa seseorang atau sesuatu bergerak menjadi anomali - atau menjadi deviasi dari batas-batas yang “dianggap wajar” oleh orang awam atau berdasarkan pada nilai-nilai universal, saya harus berkata, “rasa berkekurangan” adalah awal dari gerakan-gerakan ini.

“Rasa berkekurangan” yang menjurus ke arah penunjukan ego sebagai pusat sudut pandang. Rasa yang mendorong bahwa kehidupan yang berdasarkan pada “modesty” tidaklah cukup, bahwa hidup harus dirayakan semeriah mungkin. Rasa yang mendorong bahwa “orang lain yang mencelakakan saya, haruslah lebih menderita daripada saya, haruslah merasakan kesakitan yang lebih daripada yang saya rasakan”. Rasa berkurangan yang berubah dan bisa diterjemahkan sebagai ketamakan, egosentrisme, keculasan.

Obyek atau korban dari tindakan-tindakan itupun bukan hanya manusia dan berlapis generasi berikutnya. Nilai-nilai hidup dari korban yang disasar, lingkungan - termasuk hutan dan hewan, Dan para pelaku ketamakan ini saya yakini, bisa berbuat apa saja untuk membuat agenda, propaganda, dan segala hal taktis menjadi berhasil. Mereka bahkan bisa memperhitungkan korban dari pihak mereka sendiri, seperti barisan akar rumput mereka sendiri, sebagai “costs” yang harus ada, sebagai “casualties” yang akan selalu ada di setiap peperangan. Mereka bisa mengambil secara berlebih dari alam - semacam “perampasan” besar, yang pasti minim perhitungan atas apa-apa yang akan terjadi di masa mendatang dari tindakan mereka.

Apakah kita sebenarnya “serendah” ini? Seberapa jamak ini ditemukan? Jika ini ditemukan di hampir setiap manusia, apakah ini “basic instinct” kita, dan tertulis dalam DNA?

(Bersambung)

Labels:

Eleazhar P. @ 5/18/2017 10:44:00 PM.

0 Comments:

Post a Comment

Back to blog homepage...
  Web This Blog

 

:: Blogger + Designer

Eleazhar Purba. Indonesian, living in Jakarta. A parts logistics lead who is interested in arts, writings, designs, photos, and the universe. More...
Find me on:

:: Categories

:: Featured

:: Monthly Archives